Mom, Jangan Sampai Salah Hitung Biaya Pendidikan Anak

Mom, Jangan Sampai Salah Hitung Biaya Pendidikan Anak

Halo Mommies,

Tahun depan anak saya lulus SMA.

Masih bingung menentukan nih Mom, mau ambil kuliah atau tidak. Lho kok?

Yah, mungkin karena emaknya ini terlalu aneh cara berpikirnya kali ya.

Jadi begini Mom, enggak ada angin enggak ada wangsit, saya tuh kapan hari pernah bilang sama anak saya.

“Nang, mendingan kamu ndak usah kuliah deh.”

“Hah, emang kenapa Buk.” tanyanya kaget.

“Bukan masalah uang kuliah sih. Uang kuliah sudah ada anggarannya, tahun depan cair. Tapi lebih ke masalah waktu dan skill saja. Kalau kuliah butuh waktu 4 tahun, itu juga kamu belum tentu terasah skill dan kemampuanmu buat langsung bisa kerja begitu lulus.” jawab saya

“Kalau hasil akhir antara kuliah dan gak kuliah sama2 harus bekerja dan menghasilkan uang. berarti jadi gak penting banget dong, kuliah atau gak kuiah sepanjang kamu bisa menghasilkan uang? Bener gak?” lanjut saya lagi.

Anak saya mumet Mommies. Tapi beruntungnya dia cukup berpikiran terbuka menerima ide-ide baru. Lebih tepatnya ide (konyol) dari emaknya.

“Terus gimana Buk,” tanya dia lagi.

“Kalau ibuk sih, mendingan ambil kursus online saja. Satu atau dua tahun biar bener-bener bisa menguasai skill yang kamu mau. Entah web programmer, web developer atau apapun. Habis itu, nyebur ke Upwork atau jadi freelancer langsung. Habis itu, kalau kamu pengen ambil kuliah, ambil kuliah. Yang penting kamu sudah ada skill dan kemampuan buat menghasilkan. Gimana?” tanya saya.

“Hmm,,,kayaknya boleh juga tuh”, sahut dia lempeng.

Pembicaraan di atas benar-benar terjadi Mom, bukan hanya prolog atau pembicaraan abal-abal ala novel.

Mengapa saya menawarkan kemungkinan tersebut ke anak saya? Bukan karena kami orangtuanya tidak sanggup dan tidak mempunyai anggaran biaya kuliah. Bukan Mom.

Tapi memang murni, dari saya (khususnya) dan bapaknya sendiri, berpikir kalau lulus kuliah tapi skill kurang dan gak siap terjun di dunia kerja, ya buat apa?

Maklum, kami berdua (suami dan saya) bukan pegawai dan bukan karyawan. Bener-bener kami berdua itu bekerja dari rumah saja. 4L deh, lu lagi lu lagi ketemunya hahhaa..

Nah, saya sendiri, banyak menerima japri dan DM terkait tentang freelancer. Banyak sekali Mom, hampir setiap hari.

Maka dari itu, saya terpikir untuk membuat grup WA saja biar bisa saling berinteraksi bukan dengan saya saja tapi juga freelancer-freelancer yang lain. Ini linknya: Join WAG

Belum lagi, saya juga banyak baca update status di grup-grup FB, kebanyakan korban PHK atau fresh graduate yang bingung mau kerja apa. Hal-hal demikian membuat saya banyak berpikir dan merenung juga akhirnya.

Seandainya mereka tidak menggantungkan hidupnya sebagai karyawan, mungkin ceritanya akan lain. Seandainya mereka terbiasa mencari lapangan kerja sendiri, pasti gak akan bingung.

Mungkin kalau mindset mereka bukan hanya mau menerima gaji bulanan, mungkin juga ceritanya akan jadi lain.

Dan banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang berjejalan di benak saya. Yang kemudian bermuara ke satu titik. Apakah nanti anak saya akan mengalami hal yang sama juga?

Melamar kerja ke sana kemari, otot-ototan masalah gaji dan uang lembur. Kerja setiap hari 9-5 dan gajinya hanya habis untuk makan sebulan?

Apa kabar Bang Raditya Dika? Hehehe..

Kalau kita tidak ada keahlian dan skill yang bisa di jual, dengan harga yang sepantasnya, saya sudah bisa menerka sih, alur akhirnya akan bagaimana.

Dan tentu saja, saya tidak mau anak saya mengalami hal yang sama. Gagap dan bingung dengan masa depannya sendiri.

Rencana 7 Tahun yang Lalu

Saya dan suami sama-sama terlambat teredukasi dan mengetahui tentang dunia investasi.

Kami baru memulai berinvestasi untuk dana kuliah anak saat anak sudah kelas 5 SD. Gapapa lah ya Mom, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Pun, baru sekarang kami juga tahu, ternyata dana yang kami kumpulkan jauh banget jumlahnya dari biaya kuliah real tahun depan (2021).

Berdasarkan biaya kuliah di universitas swasta UKSW Salatiga.

Meskipun 7 tahun lalu kami di bantu juga oleh manajer investasi dan sudah berhitung kira-kira berapa dana yang dibutuhkan nantinya saat kuliah. Ehh ternyata, masih meleset juga dongg…

Jadi, 7 tahun lalu sampai dengan pertengahan tahun 2021 nanti, kami berinvestasi di reksadana saham dan campuran sejumlah IDR 500.000 per bulan.

Bukan sistem kontrak seperti unit link yang gagal bayar premi hangus ya Mom. Atau harus mengajukan cuti premi tapi ini lebih ke disiplin kita menyisihkan uang investasi per bulannya.

Kalaupun ternyata di tengah jalan ada halangan sehingga kita (investor) gagal bayar (amit-amit), uang yang sudah kita investasikan tidak akan hangus atau hilang. Tapi akan balik lagi ke rekening setelah tentunya unit saham dilepas atau di jual di pasar saham dengan harga yang berlaku saat itu.

So, lebih aman reksadana daripada unit link sih buat saya pribadi.

Saat itu, kita berharap, setelah 7 tahun yang akan datang, kami mendapat imbal hasil sekitar 10%-15% atau kalau di rupiahkan sejumlah IDR 50 juta-an. Dari total modal IDR 42 juta-an. Berharap, cukup untuk biaya kuliah selama 4 tahun.

Instrumen investasi

Beda ya Mommies pengertian antara investasi dan menabung.

Investasi itu kalau kita mengharapkan adanya imbal hasil keuntungan mom. Sementara tabungan, kita nyimpen uang saja udah.

Bisa di simpan di bawah bantal, celengan ayam, atau yang paling modern ya di simpan di bank. Tidak akan ada imbal hasil keuntungan dari menabung.

Tapi kan dapat bunga per bulan kak. Mungkin ada yang bilang demikian.

Iya, bener kita dapat bunga bank. Pernah di hitung gak berapa besar pendapatan bunga yang kita dapat? Apakah lebih besar dari biaya administrasi bank per bulan atau lebih kecil?

Beberapa instrumen investasi yang saya tahu di antaranya:

Deposito

Reksadana

Sukuk

Obligasi

Saham

Properti

Emas batangan

Perbedaan investasi vs tabungan

Investasi: suatu kegiatan menanamkan modal, baik langsung maupun tidak, dengan harapan pada waktu nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut. (sumber Wikipedia)

Tabungan: simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang di sepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan /atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. (sumber Wikipedia)

Peribahasa hemat pangkal kaya sepertinya sudah tidak akan berlaku lagi deh Mom.

Mungkin yang benar, investasi pangkal kaya hehe..

Jadi, kalau punya uang banyak lalu di tabung, sayang banget Mom.

Kenapa? Bakalan kena pajak bunga, biaya administrasi per bulan yang akan menggerus jumlah uang kita di awal.

Mengharapkan suku bunga tabungan? Nope.

Bahkan besaran suku bunga tabungan masih jauh banget di bawah deposito. Kalau tidak salah, suku bunga tabungan hanya 2% per tahun. Bahkan untuk membayar administrasi bulanan saja tidak akan cukup Mom.

Beda dengan investasi.

Ada tingkatan besaran imbal hasil tertentu untuk produk-produk atau instrumen investasi, sesuai dan berbanding lurus dengan resikonya.

Mau imbal hasil tinggi? Resikonya pasti lebih besar daripada investasi yang menghasilkan imbal hasil moderat.

Asal jangan sampai tergiur investasi abal-abal ya Mom.

Selalu cek dan ricek keabsahan lembaga inestasi di OJK (otoritas jasa keuangan) di kota atau wilayah masing-masing.

Karena kebanyakan orang-orang yang tertipu investasi bodong, selalu menggunakan nafsu di depan, akal belakangan.

Nafsu ingin dapat imbal hasil banyak dan cepet kaya.

Mana ada, ya kan Mom.

Mengapa memilih investasi dan bukan tabungan?

Karena tujuan kami 7 tahun yang lalu adalah mendapatkan keuntungan atau imbal hasil, itu mengapa kami memilih reksadana dan bukan tabungan.

Di bawah ini alasan saya memilih berinvestasi dan bukannya menyimpan uang alias menabung Mom.

  1. Kami mengharapkan adanya imbal hasil.

2. Paham dan mengerti akan adanya tingkat resiko tertentu di produk dan instrumen investasi yang kami pilih.

3. Waktu yang kami punya tidak banyak, hanya 7 tahun sehingga harus memaksimalkan dana dan instrumen investasi yang tepat.

Mengapa reksadana dan bukan Unit Link?

7 tahun lalu pada saat yang hampir bersamaan, kakak ipar saya juga menyiapkan anggaran pendidikan anak.

Bedanya, kami memilih jalur investasi sementara kakak ipar memilih unit link.

Meskipun pengetahuan finansial kami masih minim, saat itu kami sudah memperingatkan kakak ipar. Unit link itu bukan investasi murni. Karena ada unsur asuransinya.

Gapapa beliau bilang, toh asuransinya nanti pasti terpakai.

Tapi nanti hasil investasinya tidak maksimal loh, ujar kami lagi.

Halah, sudah deh, aku tuh gak mudeng masalah investasi atau asuransi. Kalau ini kan lengkap, ada investasinya ada asuransinya. Jawabnya lagi.

Ya sudah lah ya, kami hanya bisa mengingatkan saja. Resiko di tanggung penumpang.

Kenyataannya, saat keponakan mendaftar kuliah di salah satu universitas swasta, kakak ipar saya kaget.

Uang yang di terimanya dari unit link, hanya IDR 16 juta sementara total uang pendaftaran dan lain-lain yang harus di bayarkan sekitar IDR 20 jutaan.

Nah…bahkan untuk membayar biaya kuliah tahun pertama saja tidak cukup.

Tips berhitung biaya pendidikan anak

Balik lagi ke hitungan kami yang melenceng ya Mom.

Jadi, kami berhitung besaran uang kuliah berdasarkan universitas swasta yaitu UKSW.

Ini tampilan biayanya.

biaya kuliah di UKSW 2020-2021

Ambil contoh DKV atau Desain Komunikasi Visual Mom.

Biaya pembangunan (minimal) IDR 20 juta + registrasi ulang IDR 7.450.000 = IDR 27.450.000

Biaya per tahun:

  • SKS
  • Buku
  • SPP
  • Kuota internet
  • Biaya kos
  • BIaya makan
  • Biaya BBM
  • Biaya lain-lain
  • TOTAL sekitar IDR 37 jutaan >> sudah termasuk biaya pembangunan dan registrasi.

Sementara, perkiraan hasil dari investasi tahun depan sebesar IDR 42-45 jutaan. Resesi dan pandemi sukses membuat IHSG memerah tahun ini. Semoga tahun depan bisa membaik sehingga hasil akhir investasi bisa mendekati rencana awal.

Berarti, total investasi (modal + imbal hasil) hanya bisa mengcover biaya kuliah di tahun pertama saja Mom.

Padahal, dulu rencana kita, total investasi sekian bakalan cukup untuk membayar 4 tahun masa perkuliahan.

Ternyata melenceng jauh ya Mom hehe..

Sementara, kalau menganut ide konyol emaknya supaya tidak kuliah, pastinya jatuhnya lebih hemat banget dong.

Palingan nanti dana pendidikan akan terpakai untuk membeli laptop atau komputer dan beli kursus online saja.

Ini masih puyeng juga sih Mom, mau memutuskan yang mana. Boleh komen ya Mom kalau ada saran atau kritik.

Pentingnya pengetahuan tentang investasi sejak dini

Sayangnya, sekian tahun kita bersekolah, tidak ada pembelajaran tentang investasi sama sekali ya Mom.

Kita harus mencari tahu secara mandiri tentang edukasi keuangan atau edukasi finansial. Mungkin ini salah satu hal yang harus di benahi di sistem pendidikan negara kita.

Saran saya

Supaya tidak kaget akan hasil investasi pendidikan anak, sebaiknya hitung di depan secara lebih rinci dan berhari-hati Mom.

Lebih baik lagi kalau kita bisa berinvestasi mulai saat menikah atau bahkan sebelum mempunyai anak.

Semakin panjang waktu yang kita punya, besaran dana investasi yang kita sisihkan akan mengecil.

Jangan lupa dalam berhitung dana pendidikan anak, masukkan besaran inflasi per tahun. Bertambah tahun, pasti semua harga-harga termasuk harga kuliah akan naik Mom.

Sudah mempunyai dana pendidikan anak belum Mom? Share yaa…

Leave a Reply