Tentang Profesi Ghostwriter

Hai halo semua…

Minggu ini, tepatnya hari Selasa tanggal 24 November 2020 lalu, di grup Berani Ngeblog, ada sharing session bareng mba Malica Ahmad.

Yuk berkenalan dengan mbak Malica 🙂

Nama penanya adalah Malica Ahmad. Berprofesi sebagai ibu rumah tangga, bekerja online di salah satu hosting lokal, Sahabat Hosting. Juga co-founder penerbitan Indie, Dandelion Publisher. Wow…hebat ya! Ibu rumah tangga serba bisa.

Kalau sebelumnya kita belajar tentang content writer by om Baim, sekarang kita belajar tentang ghostwriter.

Pematerinya keren-keren euyyy…

Yukkk langsung ke materi aja.

Apa itu Ghostwriter?

A ghostwriter is hired to write literary or journalistic works, speeches, or other texts that are officially credited to another person as the author. Celebrities, executives, participants in timely news stories, and political leaders often hire ghostwriters to draft or edit autobiographies, memoirs, magazine articles, or other written material. In music, ghostwriters are often used to write songs, lyrics, and instrumental pieces. Screenplay authors can also use ghostwriters to either edit or rewrite their scripts to improve them.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa ghostwriter merupakan bidang kerja profesional yang berkaitan dengan menulis.

Dalam hal ini bisa berupa menulis buku, artikel, blog, script film, jurnal ilmiah, social media dll.

Kenapa ghostwriter tidak disebut sebagai writer saja? Kan, sama-sama profesi menulis?

Beda. Penulis bisa mengabadikan karya tulisnya secara blak-blakan. Sementara ghostwriter tidak. Dia harus menyerahkan hak cipta tulisannya kepada orang yang memesan atau menyewa jasanya.

Dengan kata lain, dia harus merelakan namanya tidak tampil di depan umum. Tetapi ada kalanya nama ghostwriter disebutkan di halaman ucapan terima kasih.

profest ghost writer

Apa saja yang harus dikuasai oleh seorang ghostwriter?

  1. Kemampuan menulis yang mumpuni
  2. Kemampuan tata bahasa, ejaan, dan lain-lain yang berhubungan dengan PUEBI maupun KBBI haruslah cukup mahir
  3. Terampil swasunting dan proofreading naskah
  4. Mampu berkomunikasi dengan baik agar bisa bernegosiasi dengan klien
  5. Wawasan luas tentang dunia penerbitan dan penulisan
  6. Mampu memahami teknologi dengan baik

Apakah profesi ghostwriter menjanjikan?

Tentu saja sangat menjanjikan. Bahkan profesi ghostwriter ini sangat bisa dijadikan bisnis.

Beberapa nama ghostwriter buku yang cukup terkenal namanya, seperti Pak Anang YB, Alberthiene Endah, Kirana Kejora, juga Brili Agung yang rela resign dari profesi sebagai manager hotel di salah satu Hotel terkemuka di Jakarta. Lalu memilih menekuni dunia ghost writing.

Bagaimana kita bisa mendapatkan job dari profesi ghostwriter ini?

Sosial media ibarat kawah candradimuka. Anda tidak akan kekurangan job jika ingin berkecimpung di profesi ghostwriting.

Caranya, perbanyak relasi. Kenalkan pada publik bahwa Anda seorang penulis. Bahkan Anda juga menerima jasa ghostwriting.

Selain melalui jalur online, Anda juga bisa menawarkan jasa ini di teman-teman offline yang memang membutuhkan.

Bagaimana saya mendapatkan job ghostwriting pertama kali?

Pertama kali saya mendapat job menulis ini tahun 2018. Masih unyu banget di dunia kepenulisan. Karena saya memulai belajar menulis pada tahun 2017 setelah patah hati.

Nah, entah ini keajaiban atau gimana. Saya nggak tahu kenapa si bos memilih saya menjadi partner ghostwriter-nya.

Saat saya tanya,

“Kang, kenapa harus saya?”

Beliau menjawab,

“Karena gaya menulis Mbak Malica mirip sama saya. Saya sering memerhatikan media sosial mbak. Bagaimana mbak menulis artikel menjadi lebih ringan dengan gaya story telling dan copywriting.”

Nah, bisa disimpulkan,

Betapa media sosial kita bisa menjadi portofolio abadi dan berjalan, kan?

Sejak saat itu, saya niat banget menulis. Saya nggak lagi main-main menulis sesuatu. Mengurangi curhat di sosmed.

Tetap guyon di sosmed, tetapi lebih malu-malu untuk jaga image.

Dari sanalah rezeki menulis saya di mulai. Ketika satu buku cocok, saya di hire ulang. Isi surat perjanjian ulang.

Memang bukan penerbit besar sekelas Gramedia, tetapi penerbitnya cukup berkualitas sekalipun penerbit indie.

Dari yang awalnya ghostwriting berdua, akhirnya saya dilepas sendiri.

Dan beruntung banget hasil fee ghostwriting pertama saya berikan semua ke ibu. Karena waktu itu, ibu kekeh minta saya daftar PNS. Sementara menulis bukanlah kerjaan menjanjikan. Tapi sekarang sih enggak begitu si ibu.

Sekarang apa kata saya aja.

profesi ghost writer

Bagaimana dengan tarif ghostwriter?

Menyoal tarif cukup beragam.

Dulu saat kerja ghostwriter duet tahun 2018, untuk 1 buku dibayar 5 juta. Setelah dilepas sendiri nilainya naik dikalikan 2. Dengan estimasi halaman 80-120 halaman buku sebulan.

Selain buku, ghostwriter membuat tulisan promosi juga bisa. Ini fee-nya hampir sama dengan content writer. 300 kata dihargai 25.000

Lainnya, kita bisa membidik ghostwriting untuk para dosen atau guru yang membutuhkan kenaikan pangkat dan angka kredit.

Terakhir sebulan lalu saya mengambil job ghostwriting menulis jurnal ilmiah islami untuk dosen. Estimasi 8 halaman dengan hasil nego 1,5 juta.

Kesimpulannya, penentuan fee ini fleksibel. Ghostwriter yang menuju profesional dan profesional jelas tarifnya berbeda.

Kita nggak bisa menyamaratakan semua fee penulis ghostwriter A dengan ghostwriter B harus sama nilainya.

Mungkin kita bisa ukur dari kemampuan menulis diri sendiri, deadline dan tingkat kesulitan naskah atau tulisan.

Kenapa deadline harus dijadikan tolok ukur?

Bagi saya deadline cepat, santai dan sangat santai membutuhkan effort berbeda. Nah, biasanya yang cepat saya nego harga cukup lumayan. Hehehe

Hal penting yang harus dijaga oleh ghostwriter adalah sebuah kerahasiaan yang wajib ditutup rapat.

Sekalipun kita dibayar, kita nggak boleh seenaknya. Umbar karya sana-sini kecuali seizin empunya.

Biasanya sih nggak diizinkan karena dalam surat perjanjian sudah tertera apa saja hal-hal yang harus dihindari.

Tapi ingat, meski profesi ini cukup menjanjikan tetapi juga mematikan.

Mentor menulis saya pernah berpesan.

Dalam memilih klien untuk job ghostwriter harus selektif. Berhati-hati.

Kita sebagai pihak kedua harus benar-benar mengenal siapa calon klien kita.

Logikanya, siapa sih yang mau membayar hasil karya kita dengan harga yang fantastis?

Tentu bukan orang sembarangan pastinya.

Apa saja tugas ghostwriter?

  1. Mencari klien potensial
  2. Menyusun sekaligus membuat draft kasar dari klien, kemudian mengedit dan mengembangkan sesuai keinginan klien
  3. Menulis dari sudut pandang klien, bukan ciri khas diri kita.
  4. Berdiskusi dengan klien tentang ide tulisan. Ketika acc, baru deh menulis
  5. Melakukan riset

>> Cara mbak Malica berkomunikasi dengan kliennya saat itu (karena terpisah jarak) adalah melalui audio di telegram.

Mbak Malica di Lamongan, Jawa Timur sementara klien berada di Cirebon, Jawa Barat. Pernah juga dapat klien dari Padang.

Ternyata jarak tidak meutup kemungkinan untuk mendapatkan rejeki dari menulis ya 🙂

Dan juga, menurut mbak Malica, naskah ghostwriting yang sering dicari adalah yang berjenis memoar atau biografi.

Okeee setelah sesi perkenalan dan materai selesai, saatnya QnA alias questions and anwers.

Mau tanya mba, biasanya dalam menentukan tarif patokannya bagaimana mba? Apakah per halaman atau per buku?

Saya dulu hitungan harganya per halaman.

1 halaman dihargai 50 ribu. Jadi tinggal dikalikan saja. Jika 120 halaman, berapakah fee yang kita dapat?

Jika 200 halaman, berapa feenya?

Ada juga yang langsung deal dengan hitungan 1 buku dibayar 10 juta, misalnya.

FYI, harga atau rate di atas adalah rate tahun 2018 ya. Tahun 2020 pasti sudah beda dong harganya.

Kok bisa saling percaya? Ada MoU nya?

Ada mbak. MoU dikirimkan ke rumah. Nanti saya tanda tangan bermaterai, lalu saya kirim balik. Nah, masing-masing saya dan klien pegang 1 MoU buat jaga-jaga.

Rata-rata job GW saya semua melalui online. Dari teman ke teman.

Kalau tatap muka langsung dengan klien baru proses selesai bukunya. InsyAllah 2021 bukunya terbit. Mohon doanya.

Tadi disebutkan tentang artikel buat kebutuhan angka kredit, pernah juga kah misal untuk jasa pembuatan skripsi/journal? Klo skripsi kan lebih repot karena harus menghadapi revisi dosen dll

Kalau skripsi saya belum pernah. Tapi ada teman handle ini.

Ya bayarannya sampai skripsi benar-benar kelar.

Kalau saya kemarin jurnal ilmiah yang didaftarkan ke sebuah website khusus. Namanya Sinta kalau nggak salah.

Jadi, saya minta fee saya dibayarkan ketika jurnal tersebut benar2 lolos di website tersebut.

Kalau belum, ya saya siap revisi.

Untuk buku populer, biasanya kan pakai sistem beli putus. Andai nih bukunya jadi best seller naik cetak berkali-kali apa kita masih dapat tambahan benefit or gimana?

Untuk buku populer yang sistem beli putus, ya sudah nikmati saja fee yang didapatkan di awal.

Ketika si klien bukunya best seller, kita cuma bisa bangga. Karena fee best seller dinikmati si klien.

Tapi setidaknya bisa dijadikan acuan kita untuk mendapat klien baru ke depan.

Sistem jual putus sekalipun bukan profesi ghostwriter. Nyeseknya di sana. Fee dibayar sekali aja di awal.

Biasanya berlaku untuk sistem royalti penerbit mayor.

Mba Malica, genrenya pilih-pilih atau apa saja bisa?

Kalau saya demen nonfiksi. Dan kebetulan kok kliennya rata-rata minta dituliskan nonfiksi.

Semacam memoar, itu kan semi nonfiksi dan fiksi, jadi saya terima.

Tapi kebanyakan memang buku-buku yang memanfaatkan jasa ghostwriter itu, rata-rata memoar, biografi.

Ada sih yang fiksi juga. Tapi saya belum pernah mbak

Bisa di jelaskan tidak kenapa harus selektif? Selektifnya dari segi apanya gitu.

Begini,

Kita kan nggak semua tahu background klien kita gimana.

Seperti yang saya bilang, job ghostwriting ini sifatnya agak tertutup.

Kadang klien menghendaki kisahnya diekspos. Sementara ada keluarga, yang ketika membaca kisah si klien tidk sesuai.

Nah, ini bisa menjadi masalah di kita sebagai penulis.

Untuk showing portfolio gitu atau gimana?

Hmm.. gimana ya saya jelasinnya.

Bukan showing portofolio, tetapi di pihak internal.

Kalau ada yang nggak terima saja sih. Makanya kalau ghostwriter harus melalui kesepakatan bersama sebab bayarannya nggak main-main

Materi yg ditulis seorang ghostwriter berdasarkan pesanan klien ataukah kita yang menulis sesuai topik yg kita inginkan, untuk kemudian dibeli oleh orang yang berminat terhadap tulisan kita tersebut?
Salam

Kita menulis sesuai pesanan klien.

Topik dari klien. Kita kembangkan apa yang didapat dari klien, lalu diskusikan.

Duh masih bingung nih yg section “bayarannya nggak main-main” itu dari fee atau dari risk?

Fee ghostwriter untuk buku bisa dibilang fantastik kak. Silakan searching di google, fee ghostwriter profesional itu berapa?

Bisa aja sih dapat mobil.

Nah, ghostwriting ini terbangnya luas. Kita bisa menulis buku dari berbagai tema.

Coba bayangin kalau klien yang kita dapatkan itu kelas kakap sekelas orng pemerintahan dan politik?

Menggiurkan sekali.

Karena rata-rata orang jaman digital melakukan branding dari biografi mereka yang terpampang nyata lewat buku.

Itulah kenapa saya bilang harus selektif.

Portfolionya gimana? Bukannya rahasia?

Portofolio sih saya cuma sebut ghostwriter gitu aja. Tanpa menyebutkan buku yang ditulis.

Nah, kalau sudah proses nego. Biasanya saya tunjukan tulisan saya.


Nah itu dia sharing session tentang ghostwriter dari Mba Malica. Menarik banget yaa.

Fee-nya bisa buat beli mobil katanya.

Tertarik gak nih untuk jadi ghostwriter?

Tunggu sharing session selanjutnya di grup Berani Ngeblog.

Nah, untuk mempermudah planning atau menjadwalkan konten, terutama untuk para blogger dan konten kreator, perlu tools atau alat yang bisa men-tracking dan planning semua kegiatan kita.

Kalau buat sendiri, bakal susah banget. Percaya deh, itu makanya saya menawarkan template blog planner khusus untuk blogger dan konten kreator.

Berisi 24 halaman dan bisa di kustom atau disesuaikan dengan mudah menggunakan aplikasi Canva.

Lihat penampakannya di bawah ini ya.

9 Comments

Leave a Reply