|

Dampak Sustainable Fashion Terhadap Perubahan Iklim dan Sustainable Living

Perubahan iklim telah menjadi isu global yang mendesak, dengan dampaknya yang semakin terasa di berbagai belahan dunia.

Pada tahun 2050, produksi sampah global diperkirakan akan mencapai 3,4 juta metrik ton. Meningkatnya sampah disebabkan oleh faktor-faktor seperti kebiasaan belanja konsumen, urbanisasi, dan pertumbuhan populasi.

Salah satu sektor yang diidentifikasi sebagai penyumbang besar terhadap perubahan iklim adalah industri fashion. Di tengah tantangan ini, gerakan sustainable fashion muncul sebagai solusi yang menjanjikan.

Perubahan iklim dan sustainable fashion memiliki hubungan yang erat karena industri fashion memiliki dampak besar terhadap perubahan iklim, dan konsep sustainable fashion bertujuan untuk mengurangi dampak tersebut.

Sustainable Fashion: Menggabungkan Gaya dengan Kesadaran Lingkungan

Sustainable fashion bukanlah sekadar tren baru dalam dunia mode. Sustainable fashion adalah perubahan mendasar dalam cara kita berpakaian dan berinteraksi dengan pakaian.

Sustainable fashion mengacu pada praktik produksi pakaian yang mengutamakan pertimbangan lingkungan dan etika, dengan tujuan meminimalkan kerusakan terhadap planet, meminimalkan jejak karbon, mengurangi dampak perubahan iklim dan menjaga keberlangsungan makhluk hidup di planet bumi.

Pendekatan ini menekankan pada sumber bahan yang etis, mengurangi limbah, dan mendukung umur panjang pakaian. Tujuannya adalah untuk menyelaraskan fashion dengan keseimbangan ekologis.

Dengan menggunakan bahan yang tahan lama untuk memproduksi pakaian premium, brand sustainable berupaya untuk mengurangi limbah.

Berbeda dengan sustainable fashion, praktik fashion konvensional berkontribusi pada polusi, emisi gas rumah kaca, konsumsi sumber daya yang berlebihan, dan eksploitasi tenaga kerja. Siklus produksi dan pembuangan fashion cepat (fast fashion) memperburuk masalah ini sehingga menghasilkan limbah yang tidak terkendali.

Pengurangan Limbah dan Daur Ulang Pakaian

Sustainable fashion juga mendorong praktik daur ulang pakaian. Dalam industri fashion tradisional, pakaian yang tidak terjual seringkali dibuang, menghasilkan limbah yang signifikan.

Dalam sustainable fashion, konsep upcycling dan mendaur ulang digunakan untuk memberikan pakaian yang sudah tidak terpakai “hidup kedua.” Hal ini membantu mengurangi tekanan produksi pakaian baru dan limbah.

Dampak Sustainable Fashion pada Reduksi Emisi Gas Rumah Kaca

Salah satu dampak paling signifikan dari sustainable fashion terhadap perubahan iklim adalah pengurangan emisi gas rumah kaca.

Industri fashion konvensional menggunakan energi fosil dalam berbagai tahap produksi, menghasilkan emisi yang merusak atmosfer.

Sustainable fashion mengadopsi energi terbarukan, seperti solar dan angin. Pemilihan bahan yang lebih ramah lingkungan dan teknik produksi yang efisien juga membantu mengurangi jejak karbon dalam proses pembuatan pakaian.

Bersumber dari Sustainable Jungle, bahan baku ramah lingkungan yang digunakan untuk sustainable fashion diantaranya:

Natural Sustainable Clothing Fabrics 

  • Katun organik
  • Katun recycle
  • Jute atau rami
  • Linen
  • Bambu linen

Recycled Synthetic Sustainable Clothing Fabrics

  • Nilon recycled
  • Poliester recycled
  • Deadstock

Sustainable Semi-Synthetic Clothing Fabrics

  • Lyocell fabrics/fiber
  • Bambu lyocell
  • Apple leather
  • Brewed protein
  • Bananatex

Potentially-Sustainable Natural Animal Fabrics 

  • Merino wool
  • Yak wool
  • Cashmere
  • Sheep wool
  • Silk

Tentang Sateri dan Royal Golden Eagle

Salah satu produsen dan manufaktur Lyocell fiber adalah Sateri Lyocell, anak perusahaan Royal Golden Eagle, disingkat RGE.

Grup bisnis RGE adalah pemain terkemuka di bidang manufaktur sumber daya terbarukan dan industri energi yang efisien.

Produk dari RGE meliputi:

  • Pulp and paper – APRIL and Asia Symbol
  • Palm oil/Biodiesel/Oleo chemicals – Asian Agri and Apical
  • Specialty cellulose – Bracell
  • Viscose fibre – Sateri
  • Energy/LNG/CCGT – Pacific Energy

Salah satu produk RGE yaitu Viscose fibre, merupakan serat alami dan bisa terurai secara alami. Terbuat dari pulp kayu yang bersumber dari perkebunan berkelanjutan.

Penggunaan Bahan Fashion Ramah Lingkungan

Bahan-bahan yang digunakan dalam sustainable fashion juga berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Serat sintetis seperti poliester biasanya berasal dari minyak bumi dan memerlukan proses produksi yang energi-intensif.

Serat viscose, juga dikenal sebagai rayon, adalah serat buatan yang dibuat dari bahan baku alami seperti kayu, serat tumbuhan, atau serat selulosa lainnya. Ini adalah serat populer dalam industri tekstil karena memiliki beberapa manfaat yang mencakup:

  1. Kelembutan dan Kehalusannya: Serat viscose memiliki tekstur yang lembut dan halus di kulit, mirip dengan serat alami seperti katun dan sutra. Ini membuatnya nyaman digunakan dalam pakaian, terutama pakaian yang bersentuhan langsung dengan kulit.
  2. Kemampuan Menyerap Air: Viscose memiliki kemampuan menyerap air yang baik, sehingga dapat membuat pakaian terasa sejuk dan nyaman saat digunakan dalam cuaca panas. Ini membuat viscose menjadi pilihan yang baik untuk pakaian musim panas.
  3. Draping yang Bagus: Serat viscose memiliki sifat draping atau jatuh yang baik. Ini berarti pakaian yang terbuat dari viscose akan terlihat elegan dan melambai dengan indah saat digunakan.
  4. Kemampuan Menerima Pewarnaan: Viscose mudah menyerap pewarna, sehingga pakaian yang terbuat dari serat ini dapat memiliki warna yang cerah dan menarik. Ini memberikan fleksibilitas dalam mendesain pakaian dengan berbagai warna dan pola.
  5. Ramah Lingkungan: Meskipun viscose merupakan serat buatan, produksinya melibatkan bahan baku alami seperti kayu yang dapat diperbarui. Ini berbeda dengan serat sintetis yang lebih tergantung pada bahan baku minyak bumi.
  6. Penggunaan dalam Mode Berkelanjutan: Viscose dapat digunakan dalam sustainable fashion dengan memastikan bahwa bahan baku dan proses produksi yang digunakan bersifat berkelanjutan. Bahan baku yang diperoleh secara bertanggung jawab dan proses produksi yang ramah lingkungan dapat membantu mengurangi dampak lingkungan dari pakaian viscose.
  7. Kombinasi dengan Serat Lain: Viscose dapat dicampur dengan serat lain, seperti katun atau linen, untuk menghasilkan kain dengan sifat-sifat yang unik. Ini dapat meningkatkan kenyamanan, daya tahan, dan penampilan estetika pakaian.

Interkoneksi Antara Sustainable Living dan Sustainable Fashion

Konsep sustainable fashion berhubungan erat dengan prinsip-prinsip sustainable living. Sustainable living adalah gaya hidup yang mengutamakan penggunaan sumber daya alam yang bijaksana, menghindari pemborosan, dan meminimalkan dampak lingkungan.

Ketika kita menerapkan prinsip-prinsip ini pada pilihan fashion, kita secara otomatis mendukung upaya pengurangan dampak lingkungan dari industri fashion.

Hal ini mencakup membeli lebih sedikit barang-barang, memilih produk yang tahan lama, dan memilih bahan yang lebih ramah lingkungan.

Kesimpulan

Sustainable fashion telah membuktikan bahwa fashion bisa menjadi kekuatan positif dalam perjuangan global melawan perubahan iklim.

Dengan menggabungkan prinsip-prinsip sustainable living, prinsip-prinsip desain yang ramah lingkungan, kita telah membuka jalan menuju industri fashion yang lebih berkelanjutan.

Setiap langkah kecil dalam mengadopsi gaya hidup yang lebih sadar lingkungan dan pilihan mode yang lebih bijaksana adalah langkah ke arah masa depan yang lebih baik, baik bagi bumi maupun bagi kita sendiri.

Sebagai produsen serat viscose terbesar, RGE menjalankan komitmen serius untuk mendapatkan pulp kayu secara bertanggung jawab, meminimalkan emisi, dan membantu membangun komunitas.

Mulai dari pengadaan hingga produksi, Sateri (RGE) berkomitmen terhadap keberlanjutan dan perlindungan lingkungan sebagai pemasok terpercaya serat viscose berkualitas tinggi dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab.

Similar Posts